Mendidik
anak tidak bisa dilakukan secara alamiah. Anak tidak bisa dibiarkan
sendiri melakukan proses penyerapan nilai-nilai dari lingkungan keluarga
dan sekitarnya. Seperti layaknya sebuah organisasi, keluarga
membutuhkan rumusan visi dalam mendidik anak-anaknya.
Sejatinya orang tua sudah jelas merumuskan, karakter apakah yang ingin ditanamkan kepada anak? Bagaimana melakukan penanaman nilai-nilai itu?
Tanpa
perspektif , sulit bagi orang tua untuk menanamkan karakter luhur bagi
anaknya secara konsisten. Kadang-kadang saat ini dianggap penting,
tetapi besok berubah menjadi tidak penting. Misalnya, ketika anak kita
membuang sampah sembarangan kadang kita mendidikya dengan mendampingianak itu membuang ke tempat sampah. Tetapi di lain hari kita cuek melihatnya ketika anak melakukannya lagi.
Dengan
kata lain, ketika sudah jelas karakter yang akan ditanamkan maka orang
tua hanya perlu konsisten dan tegas dalam mempraktekkannya. Di sinilah
makna pentingnya perspektif dalam mendidik anak.Perspektif menjadi sudut pandang, seperti apakah kira-kira gambarannya anak yang kita harapkan.
Perspektif juga menjadi alat ukur, apakah karakter itu mengalami progress atau tidak dalam rentang waktu tertentu. Sehingga nilai-nilai yang kita tanamkan bisa dievaluasi tingkat keberhasilannya. Ketika tidak alat ukur, maka kemungkinannya kita mendidik anak seperti berjalan apa adanya.
Beberapa Pengalaman
Sejak
kecil saya bersama istri sudah merumuskan karakter yang akan ditanamkan
kepada anak. Beberapa karakter yang disepakati yaitu, bersih dan rapi,
jujur, hormat pada orang tua dan orang lain, berbakti kepada Allah,
mandiri, dan terus bertambah sesuai dengan umur anak.
Setelah nilai-nilai ditetapkan, kami mencoba mencari bagaimana karakter itu bisa operasional dalam kebiasaan anak sehari-hari.
- Untuk bersih dan rapi, pada anak kedua yang saat ini berumur 20 bulan kami sudah mengenalkan pada tempat sampah. Setiap ia membuka bungkus sesuatu, kami sering menanyakannya, “ayo…bungkusnya ini dibuang kemana?” ia pasti menjawab, “ke empat campah..(maksudanya ke tempat sampah”. Kemudian ia dampingi dia ke tempat sampah dan mendorong ia sendiri untuk membuangnya.Sementara sama anak pertama yang sekarang sudah duduk di kelas 2 MI, kami menanamkan kerapian dan kebersihan dengan mengontrol kamarnya. Setiap kali selesai tidur atau belajar selalu kami ingatkan agar merapikan seperei, bantal, atau buku-bukunya.
- Dalam menanamkan nilai kejujuran kami mengambil pengalaman almarhum kakak saya yaitu dengan menyebar uang recehan di setiap meja makan, meja tv, dll. Jika tiba-tiba hilang kami memanggil anak untuk mengkonfirmasi, apakah ia mengambil uang atau tidak. jika mengambil, kami beritahukan bahwa cara itu tidak bagus. Mengambil apapun yang bukan haknya tidak boleh. Setelah itu kembali kami taruh recehan uang di meja yang sama. Jika tidak hilang, berarti anak sudah bisa memahami makna kejujuran.
- Untuk nilai menghormat kepada orang tua dan orang lain, kepada anak pertama kami ajarkan bersalaman ketika ada tamu, bilang assalamualaikum ketika masuk rumah, bilang terimakasih ketika diberi sesuatu. Itu kami lakukan berulang-ulang, sehingga si kecil sekarang sudah terbiasa mengucapkan terimakasih ketika diberi/dibantu sesuatu.
- Sementara pada anak kami yang pertama diajari mempersilahkan duduk ketika ada tamu, memberi uang kepada peminta-minta, berbagi yang dia punya kepada temannya, mendoakan guru/temannya ketika sakit.
- Untuk membangun religiusitasnya, kami ajari mereka berdo’a sebelum melakukan sesuatu. Jika si kecil membaca bismillah ketika makan. Sementara anak pertama sudah diajari shalat lima kali dalam sehari-semalam. Anak pertama juga kami ajari untuk selalu bersyukur. Yang sudah biasa dia lakukan, ia tidak akan meningglkan sisa sebutir nasipun di piringnya ketika ia makan.
- Anak pertama kami juga sudah kami ajarkan kemandirian. Ia kami dorong untuk melakukan sesuatu sendiri. jika tidak bisa baru kami membantunya. Sekarang sudah bisa sendiri, ke sekolah sendiri, dan sudah bisa menggoreng lauk dan telur sendiri.
- Soal uang jajan sebagaimana yang saya tulis di kompasiana, bagaimana mengelola uang jajan anak, kami menerapkan satu pintu. Anak harus meminta uang jajan kepada ibunya. Cara ini untuk memudahkan kami mengontrol penggunaan uang jajan, biar anak tidak meminta kepada ibunya sekaligus pada bapaknya.
Itulah
beberapa karakter yang kami tanamkan kepada anak. kami mulai dengan
merumuskan nilai-nilai karakter apakah yang akan ditanamkan, dan
selanjutnya dicari pranata untuk membiasakannya. Dan karakter yang mau
ditanamkan bisa bertambah sesuai dengan usianya, misalnya sabar, empati
kepada orang lain, percaya diri, tahan banting, cinta ilmu, tekun dan
karakter-karakter luhur lainnya.
Satu
hal yang penting dilakukan, adalah konsistensi dan ketegasan. Ketika
karakter itu hendak dipraktekkan, maka tidak bisa maju mandur. Memang
terus terang, tidak selamanya kami sabar dan mampu memberikan tauladan.
Tetapi jika rumusan karakter yang ingin ditanamkan kepada anak ada,
setidaknya itu bisa menjadi perspektif dalam mendidik anak.by
Arfa bitan